Ba’da tahmid wa shalawat.
Salah seorang teman ‘mengeluh’ karena usianya sudah hampir kepala 3 sementara keinginan untuk menikah juga tinggi, tetapi jodoh belum kunjung terlacak.
Saya hanya bisa menyampaikan untuk tetap bersabar dan ikhtiar, namun beliau kemudian mengejar saya dengan pertanyaan, ‘Bagaimana ikhtiarnya’.
Akhirnya dengan bismillah, saya coba berbagi dengan beliau tentang hal-hal yang dulu saya coba lakukan dan saya pelajari pada saat mempersiapkan diri dan berikhtiar untuk menikah.
Saya memulai perbincangan dengan topik ‘Persepsi’, maksud saya adalah menyamakan beberapa hal yang menurut saya akan sering diulang dalam pembicaraan mengenai pernikahan dan rumah tangga. Proses ini untuk memudahkan diskusi dan setidaknya kerangka yang digunakan relatif sama.
Sebagai bagian dari berbagi, saya rasa lebih baik dituliskan di ruang ini agar lebih banyak umpan balik dan masukan dari yang lain
pw#1: PERSEPSI
Ketika kita bicara tentang membangun rumah tangga (saya tidak hanya bicara tentang menikah, karena menikah hanya proses awal -gerbangnya- sementara proses sebenarnya adalah membangun rumah tangga yang bisa jadi jangka waktunya tidak sehari tapi bertahun-tahun bahkan -do’a kita- sepanjang sisa usia) maka langkah awal yang perlu kita samakan adalah PERSEPSI
Persepsi ini adalah tentang (1) Pasangan hidup (2) Rumah tangga (3) Allah SWT.
I. Persepsi terhadap ‘Pasangan Hidup’
I.1. Bagaimana dan bukan siapa
Menurut saya salah satu hal utama yang menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan hidup adalah ‘bagaimana ia‘ dan bukan kecenderungan ‘siapa ia’. Hal ini mengomentari tentang kampanye cinta dari berbagai media baik televisi, film, buku dan lainnya dimana kadangkala orang menjadikan sosok ‘dia’ sebagai harga mati. Diperjuangkan habis-habisan untuk menikah dengan seorang dia saking sudah cintanya, tanpa mempertimbangkan lagi bagaimana-bagaimananya. Apalagi ketika pada saat yang bersamaan sebenarnya terdapat peluang untuk mempunyai 2 atau lebih pilihan. Atau pada kasus orang yang sudah lama saling kenal atau berpacaran (secara pribadi saya tidak setuju dengan aktifitas pacaran) kemudian ketika mereka memperbaiki niat untuk menikah tetapi terbentur dengan hal-hal yang tidak bisa dikompromikan oleh salah satu pihak/keluarganya, maka seakan-akan seluruh hidupnya menjadi tidak berarti karena batal menikah dengan orang tersebut tanpa menyadari bahwa masih ada ratusan gadis/pria lain.
Nabi memberi petuah terkait kecenderungan orang dalam memilih pasangan hidup. 1. Fisiknya, 2. Keturunannya, 3. Hartanya, 4. Agamanya. Dengan ikutan bahwa baiknya agama menjadi tolak ukur yang penting yang bisa menjadi jaminan terhadap baiknya yang lain.
Sehingga penting kita tidak terlena dan emosional terhadap sosok ‘siapa ia’ dan kemudian mencari pembenaran terhadap ‘bagaimana’nya seseorang tersebut.
I.2. Standarnya akhlak/agama
Kecenderungan memilih pasangan dengan melihat pada 4 aspek tadi adalah hal manusiawi, dan Nabi memberi tekanan pada agama/akhlak. Ini juga yang mestinya menjadi do’a kita selalu dan menjadi penjagaan kita dalam proses memilih pasangan dan mengarungi rumah tangga. Agama dan akhlak kita lihat bukan hanya dari sisi pelaksanaan syariat tapi juga dalam kualitas lainnya.
Bagaimana melihat kebaikan agama/akhlak seseorang, kita coba bahas dalam bagian ‘ikhtiar eksternal’
I.3. Pasangan yang tepat, bukan pasangan yang sempurna
Kita coba samakan persepsi bahwa kita sedang memohon dan mencari pasangan yang tepat untuk kita. Mencari atau mengharapkan seorang yang sempurna hampir mustahil, bisa jadi mustahil karena memang sulit, dan kalaupun ada yang mengharapkan banyak. Terlalu banyak saingan.
Konteks ini juga berarti kita akan mencoba melihat seberapa bisa kita memberi toleransi, dan kemudian kembali pada konteks mana yang tidak bisa ditolerir, yang kemudian menurut saya adalah akhlak tadi.
I.4. Kelebihan dan kekurangan
Bahwa masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka coba kita fahami mana kekurangan, cari untuk disampaikan dan diupayakan perbaikannya. Pada konteks persepsi ini saya ingin bicara bahwa kita jangan hanya bicara tentang positifnya saja tetapi juga harus secara proporsional melihat dan mencari tahu apa kekurangan atau jeleknya seseorang. Perlu juga kemudian kita memiliki panduan apa yang tidak kita suka dari seseorang serta seberapa tingkat toleransinya. Demikian juga bahwa kita mencoba memahami apa yang menjadi kekurangan kita serta memahami bagaimana akan coba kita perbaiki.
I.5. Siapkan diri untuk menjadi siap
Seorang dosen pembimbing atau penguji akan meluluskan mahasiswanya menjadi sarjana ketika mahasiswa tadi dianggap siap mengemban konsekuensi gelar sarjana. Demikian halnya dalam konteks merubah status dari single menjadi suami/istri, dia bisa saja akan dihadirkan ketika kita memang dianggap siap. Maka kita juga perlu menyiapkan diri, bahkan seandainya pun besok hari ada seorang datang meminang dan meminta langsung menikah kita sudah siap. Lahir batin.
Saya seringkali berfikir begini, jangan-jangan ketika kita memohon sesuatu tetapi belum Allah kabulkan karena kita memang belum siap atau layak mendapatkan yang kita pinta.
Contohnya begini, saya berdo’a bisa mempunyai mobil dalam satu tahun ini. Tetapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda secara rasional bahwa saya bisa punya mobil. Dan ternyata kalaupun besok kemudian ada mobil nongkrong di tempat saya, saya toh tetap tidak bisa menggunakannya karena belum bisa menyetir dan tidak punya cukup uang untuk membayar sopir.
Jadi, mungkin Allah belum mengabulkan do’a saya karena saya memang belum siap, kalaupun dikabulkan menjadi tidak berguna bagi saya, mubadzir. Nah maka dari itu, saya tetap berdo’a bahwa tahun ini bisa mempunyai mobil, kemudian saya berencana menyiapkan diri dengan belajar menyetir.
II. Persepsi tentang Rumah tangga
II.1. Kita membangun rumah tangga dan keluarga, bukan sekedar menikah
Seringkali saya merasa yang lebih banyak diributkan adalah tentang menikahnya dan bukan tentang membangun keluarga/rumah tangganya. Padahal menikah itu cuma 5 menit sementara menjalani rumah tangga jauh lebih lama dari itu. Maka mari kita berfikir untuk membangun rumah tangga dan bukan sekedar menikah.
Ibaratnya pernikahan adalah pagar/pintunya, sementara rumah tangga dan keluarga adalah rumahnya. Kita fikirkan bagaimana kita akan membangun rumah.
Bahwa rumah bagus harus dilengkapi dengan pagar/pintu yang bagus itu wajar. Menjadi tidak wajar adalah kita mati-matian membuat pagar yang bagus tapi rumahnya tidak nyaman untuk ditinggali atau bahkan tidak terfikirkan untuk membuat rumahnya.
II.2. Tujuan/niat
Ini menjadi hal penting. Samakan niat dan tujuan berumah tangga dan berkeluarga dari kedua belah pihak. Bukan hanya dalam tataran verbal ‘membangun rumah tangga sakinah, mawaddah rahmah’ tapi fahami maknanya dan upayakan. Karena bisa jadi suatu saat kita berada dalam situasi dimana niat dan tujuan ini menjadi alat yang membuat rumah tangga dan keluarga kita utuh.
Tidak lepas dari petuah nabi bahwa niat menentukan amalan. Jangan sampai kita menghabiskan segala upaya, daya, dana, fikiran, fisik yang sementara niatannya tidak pernah jelas. Maka amalan kita pun tidak ada artinya.
II.3. Proses ibadah/belajar
Kehidupan, termasuk berumah tangga di dalamnya, adalah sebuah proses belajar dan ibadah. Ada gambaran-gambaran ideal yang harus kita fahami dan menjadi tujuan. Dan kehidupan menjadi proses menuju ke titik tersebut. Proses belajar kita dalam rumah tangga berarti kita punya orang untuk menemani, mengingatkan, membimbing. Juga kita mempunyai orang untuk ditemani, diingatkan, dibimbing. Prosesnya timbal balik, tidak hanya mengandalkan salah satu pihak, dan juga harus diimbangi dengan saling sabar dan menyabarkan.
II.4. Tidak selalu menyenangkan
Menikah, menjalani rumah tangga dan berkeluarga tidak melulu tentang kesenangan dan romantisme. Akan banyak perbedaan pendapat, kemarahan, mungkin juga pertengkaran dan tangisan. Juga tanggungjawab dan mungkin banyak hal tidak menyenangkan lainnya. Kita juga harus menyadari dan menyiapkan diri dengan hal-hal tadi.
Termasuk menyiapkan diri adalah mempelajari ilmu terkait dengan hal-hal tersebut, tentang komunikasi, menyelesaikan masalah, memotivasi, manajemen diri dan lainnya.
II. 5. Harus diupayakan kebahagiaannya
Cerita hidup bukanlah seperti Cinderella yang setelah bertemu pangeran kemudian ‘happily ever after‘. Kebahagiaan dan cinta harus diupayakan dan terus menerus dipupuk. Jadi jangan pernah bosan mengupayakan agar kita dapatkan kebahagiaan, cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga dan keluarga. Dan jangan berharap bahwa pasangan kita adalah pangeran yang bisa memberi kita segalanya dengan romantisme atau seorang putri yang selalu tampil anggun dan sesuai dengan yang kita khayalkan.
III. Persepsi terhadap Allah SWT
III.1. Allah Maha Suci
Maha Suci dalam artian bahwa Allah tidak pernah salah atau bertindak yang tidak baik. Sehingga ketika pun yang kita jalani atau yang diciptakan Allah (tidak hanya benda tapi juga situasi) menurut kita sangat tidak bagus, jelek atau tidak menyenangkan, jangan pernah menyalahkan Allah atau menganggap Allah bertindak tidak benar.
III. 2. Allah mengabulkan do’a
Coba kita ingat kembali apa yang pernah kita harapkan atau fikirkan (baik ataupun jelek) mungkin setahun atau 5 tahun yang lalu. Kemudian coba bandingkan dengan kondisi dan apa yang kita raih sekarang. Insya Allah banyak yang cocok. Maka berdo’a bahkan berfikir (melintaskan harapan) pun harus sesuatu yang baik, karena Allah mengabulkan do’a. Demikianpun pada kondisi dimana mungkin kita putus asa dan kemudian berfikir tentang kejelekan untuk diri kita.
Berdo’a saja yang baik, jangan pernah menyerah dan berharap sesuatu yang minimal (asal-asalan). Misalkan : Sudahlah tidak tampan tak apa asal ada yang mau. Jangan! Tetaplah berdo’a, berfikir, berharap dipertemukan dengan lelaki sholeh, menyenangkan pandangan dan bertanggungjawab.
III.3. Allah Maha Tahu
Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan, bisa jadi tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan atau kesenangan kita. Tetapi ketika semua ikhtiar kita coba optimalkan, do’a sudah sepenuhnya kita coba panjatkan, musyawarah sudah kita upayakan, maka berikutnya adalah tawakal bahwa Allah Maha Tahu. Sembari terus berdo’a kebaikan dan mensucikan Allah, berbaik sangka kepada Allah dan apa yang Dia ciptakan.
–oOo–
Demikian sedikit tentang hal PERSEPSI. Kita coba jadikan itu sebagai dasar dalam diskusi kita ke depan.
Setelah ini kita akan coba diskusikan terkait Ikhtiar lebih lanjut. Nantinya akan coba saya bagi dalam dua bahasan, ‘Ikhtiar Intenal’ dan ‘Ikhtiar eksternal’. InsyaAllah dalam waktu dekat, mohon do’anya agar dimudahkan.
khafidzin
Community organizer yayasan Peramu
(last edited 20/05/2010)

bagaimana dengan yang namanya jatuh cinta setengah mati mas?he..3x kayak lagu aje.
Oleh: fungiasik on Mei 16, 2010
at 5:59 pm
Saya sih lebih suka jatuh cinta sepanjang hidup…
Saya sebenarnya tidak terlalu percaya cinta setengah mati kepada lawan jenis, itu emosional mungkin. Kalau sudah menikah kemudian kita harus mencintainya ya itu konsekuensi.
Mohon maaf kalau saya mungkin orangnya terlalu logis.
Oleh: mbahmbuh on Mei 16, 2010
at 6:42 pm
thanks for sharing kak hafidz.. ^_^
Oleh: lia on Mei 20, 2010
at 10:06 pm
Sama-sama li, semoga bermanfaat. Semangat ya…!
Oleh: mbahmbuh on Mei 20, 2010
at 10:12 pm
Mantab… mantab… Salam silaturahim dari Malang.
Oleh: Rizki on Mei 21, 2010
at 8:49 pm
Amin..amin.. Alhamdulillah. Salam silaturahim untuk keluarga di Malang dari Batang, Ciamis, Bogor
Oleh: mbahmbuh on Juni 5, 2010
at 7:46 pm